2 September 2026
IMG-20260819-WA0161

Targetsindikat.com

 

Pasien BPJS Tunggu 8 Jam, Dirundung Tenaga Medis dan Nakes, Meninggal 9 Hari Kemudian — Jangan Langsung Tarik Kesimpulan Sebab-Akibat

 

JAKARTA, 19 AGUSTUS 2026 — Kasus pasien peserta BPJS yang harus menunggu sekitar delapan jam untuk mendapatkan kamar rawat inap di rumah sakit, dirundung oleh tenaga medis maupun tenaga kesehatan, dan dikabarkan meninggal dunia sembilan hari setelah peristiwa tersebut, memicu gelombang kemarahan publik yang luas.

Namun, dalam Podcast EdShareOn yang dipandu Eddy Wijaya, Dr. dr. Mohammad Adib Khumaidi, Sp.OT., Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Periode 2022–2025, menegaskan bahwa permasalahan ini tidak boleh disederhanakan sekadar sebagai kesalahan individu.

Perundungan memang tidak dapat dibenarkan, tetapi sistem kesehatan nasional juga harus ikut dibenahi secara menyeluruh. Publik juga diminta tidak langsung menarik kesimpulan sebab-akibat antara perlakuan tersebut dengan kematian pasien sebelum ada hasil pemeriksaan medis yang jelas.

 

Kronologi: Waktu Tunggu, Perlakuan yang Tidak Pantas, dan Kematian yang Berjarak

 

Kasus ini bermula dari curhatan seorang pasien BPJS yang viral di media sosial terkait lamanya waktu tunggu pelayanan. Alih-alih mendapat pelayanan dan empati, pasien justru mendapatkan komentar yang dinilai merundung dan mengejek tidak hanya dari tenaga medis, tetapi juga dari sejumlah tenaga kesehatan lainnya.

Unggahan tersebut menyebar luas dan memicu kemarahan publik. Sembilan hari setelah peristiwa tersebut, pasien dikabarkan meninggal dunia. Belum diketahui secara pasti penyebab kematian dan apakah ada kaitan langsung dengan waktu tunggu maupun perlakuan yang diterima.

Sejumlah pihak yang sebelumnya memberikan komentar merundung kemudian mendapat sorotan tajam dan ada yang menyampaikan permintaan maaf.

 

Perundungan Salah, Tetapi Sistem Juga Menyumbang Masalah

 

“Perundungan terhadap pasien itu salah dan tidak boleh terjadi. Tetapi jangan hanya menghakimi nakes saja, sistem kesehatan yang menopang seluruh pelayanan juga harus dibenahi,” tegas Adib dalam wawancara bersama Eddy Wijaya.

“Ketika fasilitas terbatas, beban kerja berlebih, dan kebijakan belum mendukung kualitas pelayanan, maka tekanan itu akhirnya dirasakan oleh pasien.

Kita tidak bisa hanya menindak individu tanpa memperbaiki sistem yang menciptakan tekanan tersebut.” Ia juga mengingatkan agar publik tidak langsung mengaitkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai satu rangkaian sebab-akibat tanpa hasil pemeriksaan medis yang sah.

 

Pembenahan Menyeluruh Adalah Kunci Solusi

 

Adib menjelaskan bahwa pembenahan sistem kesehatan harus mencakup peningkatan fasilitas, penambahan jumlah tenaga kesehatan, penyederhanaan birokrasi, serta peningkatan kesejahteraan seluruh tenaga kesehatan.

“Kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, penyelenggara layanan, tenaga kesehatan, dan masyarakat harus berjalan beriringan. Menyalahkan satu pihak tanpa melihat gambaran besar tidak akan menyelesaikan masalah secara berkelanjutan,” tambahnya.

 

Simak wawancara selengkapnya di: https://youtu.be/0alSy_Batbg

EdShareOn — Sukses itu, hanya masalah waktu. | https://edshareon.com/

(red)