TARGET SINDIKAT, 22 Maret 2026 – Pemerintah Amerika Serikat telah mengeluarkan ultimatum berskala tinggi kepada Iran, menuntut pembukaan penuh dan tanpa hambatan akses pelayaran di Selat Hormuz dalam jangka waktu 48 jam. Presiden AS Donald Trump menyampaikan tuntutan strategis tersebut melalui pernyataan resmi yang diterbitkan pada hari Sabtu (21/3) pukul 23.44 GMT, dengan menegaskan bahwa Washington tidak akan sungkan mengambil tindakan militer jika tuntutan tidak dilaksanakan.
“Jika Iran tidak membuka sepenuhnya akses ke Selat Hormuz tanpa adanya bentuk ancaman apapun dalam kurun waktu 48 jam sejak publikasi pernyataan ini, Amerika Serikat akan melakukan serangan terarah dan menghancurkan sejumlah fasilitas pembangkit listrik negara tersebut, dimulai dari infrastruktur terbesar dan paling krusial,” demikian bunyi pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Kantor Kepresidenan Gedung Putih.
Berdasarkan perhitungan zona waktu yang berlaku, tenggat waktu yang ditetapkan akan berakhir pada hari Senin (23/3) pukul 23.44 GMT – atau secara lokal di Teheran pada hari Selasa (24/3) pukul 03.14, serta pukul 06.44 WIB di wilayah Indonesia.
Selat Hormuz dikenal sebagai jalur maritim paling vital di dunia, yang menjadi laluan bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global setiap hari. Setiap bentuk gangguan terhadap akses pelayaran di wilayah tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi global secara signifikan dan mengganggu stabilitas ekonomi internasional yang tengah dalam masa pemulihan.
Ancaman terhadap infrastruktur energi Iran dinilai sebagai langkah yang membawa risiko strategis tinggi, mengingat serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik tidak hanya akan memengaruhi kapasitas operasional sektor militer negara tersebut, tetapi juga berpotensi menyebabkan gangguan masif pada layanan publik esensial dan mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat sipil yang tidak bersalah.
Hingga saat ini, institusi pemerintah Iran belum mengeluarkan tanggapan resmi terkait ultimatum yang diberikan oleh AS. Namun, para ahli keamanan kawasan memperkirakan bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah akan mengalami peningkatan signifikan seiring dengan mendekatnya batas waktu yang ditetapkan.
Analis kebijakan internasional menyatakan bahwa jika situasi berkembang menjadi konflik militer terbuka, dampak yang ditimbulkan tidak akan terbatas pada wilayah kawasan saja, melainkan berpotensi memiliki implikasi luas pada skala global – terutama dalam sektor perdagangan energi, aktivitas perdagangan internasional, serta stabilitas keamanan dunia secara keseluruhan.(red)
