2 September 2026

JAKARTA — Fluktuasi tingkat kepuasan dan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai rilis survei opini publik merupakan dinamika politik yang wajar.

Namun, angka-angka tersebut hanyalah cerminan persepsi sesaat. Penentu utama keberlanjutan dukungan publik hingga Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mendatang terletak pada realisasi nyata program-program kerja pemerintah di lapangan.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), Djayadi Hanan, Ph.D., saat menjadi narasumber dalam program Podcast EdShareOn yang dipandu oleh Eddy Wijaya di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Djayadi menekankan bahwa popularitas figur politik tanpa diimbangi kinerja nyata tidak akan bertahan lama. Persepsi positif masyarakat hanya dapat dijaga apabila program prioritas pemerintah mampu memberikan dampak langsung yang dirasakan oleh rakyat.

Empat Faktor Penentu Dukungan Publik

Djayadi memaparkan empat aspek kunci yang menjadi tolok ukur penilaian masyarakat terhadap keberhasilan pemerintahan saat ini:

  • Realisasi Program Prioritas: Ketercapaian target dan manfaat nyata dari kebijakan yang digulirkan.
  • Efektivitas Komunikasi Publik dan Politik: Kemampuan pemerintah menyampaikan arah kebijakan secara transparan dan mudah dipahami.
  • Efisiensi Birokrasi: Pengurangan tumpang-tindih prosedur demi mempermudah penyaluran bantuan atau layanan publik.
  • Kepercayaan Masyarakat: Pemeliharaan legitimasi politik secara konsisten dan berkelanjutan.

“Jika masyarakat merasakan manfaat langsung dari program pemerintah, dukungan akan tumbuh secara alami. Sebaliknya, jika target tidak tercapai atau terdapat hambatan komunikasi dan birokrasi, ruang kritik akan terbuka,” ujar Djayadi.

Menutupi perbincangan, Eddy Wijaya menyimpulkan bahwa survei politik hanyalah alat ukur sementara. Evaluasi sejati dari kepemimpinan nasional akan selalu kembali pada hasil kerja dan efektivitas birokrasi dalam melayani masyarakat.

Tayangan lengkap diskusi ini dapat disaksikan melalui kanal YouTube EdShareOn Eddy Wijaya.

Red.