
CIKEAS — Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Aman Nusa I dan II di Lapangan Yana Anucasana, Satlat Brimob Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Senin (7/9/2026). Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapsiagaan personel dan perlengkapan dalam menghadapi potensi bencana alam serta dinamika konflik sosial sepanjang tahun 2026.
Apel dipimpin langsung oleh Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo dan dihadiri pejabat utama Mabes Polri, jajaran Korps Brimob, serta ribuan personel gabungan. Total kekuatan yang disiapkan dalam kedua satgas ini mencapai 5.586 personel, dengan 2.373 personel di antaranya hadir mengikuti pemeriksaan pasukan secara langsung.
Fokus Dua Operasi Strategis
Operasi Aman Nusa dibagi menjadi dua fokus penanganan utama:
- Operasi Aman Nusa I (Penanganan Konflik Sosial): Menyiapkan 2.766 personel yang berfokus pada langkah preemtif, preventif, penindakan, penegakan hukum, hingga pengelolaan informasi publik. Satgas ini bertugas memitigasi potensi gesekan sosial, termasuk unjuk rasa dan dinamika keamanan masyarakat.
- Operasi Aman Nusa II (Penanganan Bencana): Menggerakkan 2.820 personel sebagai operasi kontingensi bencana alam maupun nonalam. Satgas ini dibekali unit Pencarian dan Pertolongan (SAR), Pengungsian dan Perlindungan, Tim Medis (Dokkes), Penyelidikan, Humas, serta Bantuan Operasional.
Respon Cepat Potensi Bencana Alam
Wakapolri menekankan bahwa letak geografis Indonesia di kawasan Ring of Fire menuntut tingkat kesiapsiagaan yang tinggi. Berdasarkan data BNPB, sepanjang Januari hingga awal September 2026 telah terjadi 1.730 bencana alam di Indonesia—didominasi banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor, dan karhutla—yang menelan 397 korban jiwa serta memaksa lebih dari 4 juta warga mengungsi.
Selain itu, kewaspadaan dinaikkan seiring berstatus Siaganya enam gunung api aktif di Indonesia, seperti Gunung Anak Krakatau, Sinabung, Semeru, Merapi, Lewotobi Laki-laki, dan Ibu.
“Bencana alam bisa terjadi kapan saja. Kesiapsiagaan harus dibangun sejak fase prabencana, saat tanggap darurat, hingga pascabencana,” ujar Komjen Pol. Dedi Prasetyo.
Melalui Operasi Aman Nusa II, Polri menyiapkan evakuasi korban, pengamanan lokasi, pendirian dapur dan rumah sakit lapangan, bantuan logistik, hingga penanganan trauma (trauma healing) bagi anak-anak dan kelompok rentan. Seluruh aksi ini dijalankan berkolaborasi dengan TNI, BNPB/BPBD, pemerintah daerah, dan relawan.
Pencegahan Konflik Sosial dan Pengamanan Ruang Publik
Di sisi lain, Operasi Aman Nusa I disiagakan untuk mengawal hak menyampaikan pendapat di muka umum sekaligus mencegah potensi kerusuhan. Polri memetakan sejumlah agenda dan dinamika sosial sepanjang 2026, termasuk potensi unjuk rasa pada momentum Hari Tani Nasional dan peringatan Tragedi Semanggi II pada akhir September.
Wakapolri menegaskan, kendati penyampaian pendapat adalah hak konstitusional, Polri tetap memprioritaskan langkah deteksi dini, patroli siber penangkal narasi provokatif, serta pendekatan persuasif bersama tokoh masyarakat.
“Pahami akar masalah di wilayah masing-masing dan bangun kedekatan dengan masyarakat untuk memitigasi konflik. Penegakan hukum adalah upaya terakhir (ultimum remedium) yang dilakukan secara profesional dan terukur,” tegas Wakapolri.
Prinsip Utama: Keselamatan Rakyat adalah Hukum Terdalam
Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir menambahkan bahwa gelar pasukan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden RI dan Kapolri. Ia menegaskan komitmen Polri yang memegang teguh prinsip Salus Populi Suprema Lex Esto—keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.
Masyarakat terdampak bencana juga diimbau untuk memanfaatkan layanan hotline resmi Polri di nomor 110 untuk mendapatkan bantuan cepat.
Sementara itu, Waastamaops Kapolri Irjen Pol. Laksana mengingatkan publik agar bijak menyaring informasi di ruang digital dan selalu merujuk pada kanal resmi seperti BMKG, Angkasa Pura, atau instansi pemerintah terkait guna menghindari kabar bohong (hoaks).
Red.
