15 Juli 2026
Artikel DWIKORITA landscape 5

 

Menjawab Tantangan Ganda Iklim dan Bencana Geologis demi Keselamatan Bangsa

 

JAKARTA, 17 Juni 2026 – Dalam wawancara eksklusif yang disajikan kanal EdShareOn, Eddy Wijaya kembali mengangkat isu krusial yang menyangkut nasib seluruh masyarakat Indonesia. Kali ini, ia berbincang mendalam bersama Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., mantan Kepala BMKG 2017–2025 dan kini Guru Besar Teknik Geologi UGM, untuk mengupas tuntas dua ancaman besar yang datang bersamaan: fenomena cuaca ekstrem yang dijuluki El Nino Godzilla serta potensi bahaya gempa dan tsunami dari keaktifan Sesar Palu‑Koro.

Pembahasan ini bukan sekadar penjelasan ilmiah, melainkan peringatan dini dan panduan lengkap mengenai apa yang harus dipersiapkan pemerintah dan rakyat di tengah situasi geopolitik global yang belum sepenuhnya stabil. Berikut adalah rangkuman utuh dari percakapan tersebut.

El Nino Godzilla: Fenomena Luar Biasa yang Mengubah Pola Cuaca

Eddy Wijaya langsung menyinggung nama unik yang melekat pada fenomena kali ini. “Mengapa diberi nama Godzilla? Apa bedanya dengan El Nino yang pernah kita alami sebelumnya?” tanya Eddy membuka sesi.

Prof. Dwikorita menjelaskan bahwa istilah itu dipakai para ahli untuk menggambarkan kekuatan yang jauh melampaui batas normal. “El Nino biasa saja dampaknya sudah terasa berat, tapi kali ini pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur terjadi secara ekstrem. Ditambah lagi, kondisi ini berjalan beriringan dengan indeks Samudra Hindia positif. Gabungan keduanya ibarat dua kekuatan alam yang bersatu, membuat curah hujan di wilayah barat dan selatan Indonesia anjlok drastis,” paparnya.

Wilayah yang paling parah terdampak meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian wilayah Sulawesi. Kemarau panjang ini diprediksi berlangsung hingga awal tahun depan, jauh lebih lama dan lebih kering dibanding siklus‑siklus sebelumnya.

Eddy kemudian mengaitkan hal ini dengan kondisi ekonomi dunia. “Saat ini situasi politik internasional masih bergejolak, dampak ekonomi dari ketegangan konflik masih terasa pada harga dan pasokan barang. Apakah kondisi ini membuat beban kita semakin berat?”

“Benar sekali,” jawab Dwikorita tegas. “Kekeringan panjang berisiko besar menyebabkan gagal panen massal, krisis air bersih, serta meluasnya kebakaran hutan. Jika ini bertemu dengan guncangan ekonomi luar negeri, maka risiko kelangkaan pangan dan lonjakan harga menjadi sangat nyata. Dampaknya bisa langsung dirasakan hingga ke tingkat ekonomi masyarakat kecil dan mengganggu stabilitas negara.”

Strategi Menghadapi Dampak: Dari Lahan Pertanian Hingga Fasilitas Kesehatan

Menyikapi risiko yang cukup besar ini, Eddy Wijaya meminta penjelasan langkah nyata apa saja yang harus dilakukan. Dwikorita merinci sejumlah strategi mitigasi yang wajib segera dijalankan.

Langkah utama ada di sektor pertanian. Para petani dan dinas terkait harus segera mengubah pola tanam. Prioritas diberikan pada jenis tanaman yang berumur pendek dan tahan banting terhadap minimnya air. Pemerintah harus memperbanyak distribusi bibit unggul dan mendorong pemakaian teknologi irigasi hemat air agar produksi pangan tetap terjaga aman.

Selain itu, teknologi rekayasa cuaca akan dimaksimalkan. Sebelum puncak kemarau tiba, BMKG bersama kementerian terkait akan melakukan operasi hujan buatan untuk mengisi kembali waduk dan cadangan air tanah, khususnya di wilayah Nusa Tenggara yang sangat rawan krisis air. Bantuan alat pompa air ke lahan pertanian juga menjadi agenda prioritas.

Aspek kesehatan dan gizi juga menjadi perhatian serius. “Enam bulan ke depan kita harus bersiap menghadapi kenaikan kasus penyakit seperti diare, gangguan pernapasan akibat debu, hingga gizi buruk,” ungkap Dwikorita. Ia juga mengingatkan bahwa risiko terganggunya pasokan pangan bisa berdampak langsung pada keberhasilan program strategis negara seperti Makan Bergizi Gratis. “Anak‑anak dan lansia adalah kelompok paling rentan. Pastikan stok pangan aman dan terjangkau,” tambahnya.

Daerah yang baru saja pulih dari bencana, seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, juga diminta bersiaga ekstra. Bertahan di tengah kemarau saat sedang memulihkan diri membutuhkan persiapan sanitasi dan air bersih yang lebih ketat dari biasanya.

Bahaya Tersembunyi: Sesar Palu‑Koro dan Potensi Tsunami Laut Dalam

Di sesi kedua, pembahasan beralih ke ancaman geologis yang tak kalah mengerikan. Eddy Wijaya menyinggung gempa berkekuatan 7,7 Skala Richter yang mengguncang perairan Filipina pada 8 Juni lalu, yang sempat merusak wilayah perbatasan Indonesia.

“Apakah gempa itu ada hubungannya dengan Sesar Palu‑Koro? Apakah ini sinyal bahwa patahan besar itu mulai bergerak aktif kembali?” tanya Eddy.

Dwikorita menjelaskan bahwa meski jarak episenter cukup jauh dan pengaruh langsungnya kecil, sistem pemantauan tetap berjalan ketat. Beliau kemudian mengungkapkan temuan penting hasil penelitian terbaru yang mengubah pemahaman para ahli selama ini.

“Kita baru paham sepenuhnya struktur sesar ini. Ternyata, Sesar Palu‑Koro tidak berhenti di daratan Sulawesi saja. Patahannya utuh, lurus, dan memanjang jauh masuk ke dasar Laut Sulawesi. Inilah fakta kunci yang menjelaskan mengapa gempa tahun 2018 lalu bisa memicu tsunami begitu dahsyat,” jelas Dwikorita.

Karena membelah dasar laut secara lurus dan panjang, pergerakan sedikit saja pada sesar ini berpotensi menggeser massa air dalam jumlah raksasa. Dampaknya, gelombang tsunami bisa muncul dalam waktu sangat singkat dengan ketinggian yang mematikan. Risiko ini dinilai jauh lebih berbahaya dibandingkan sesar darat biasa. Dwikorita mengingatkan warga di pesisir Teluk Palu dan sekitarnya untuk selalu hafal jalur evakuasi dan tetap waspada.

Penutup: Kesiapan Adalah Kekuatan Utama Bangsa

Menutup diskusi panjang dan mendalam ini, Eddy Wijaya menanyakan pesan kunci bagi seluruh masyarakat Indonesia. “Dua ancaman besar ini datang hampir bersamaan. Apakah kita sudah siap?”

Prof. Dwikorita menegaskan bahwa tantangan ini memang berat namun bukan berarti tidak bisa dihadapi. “Kita tidak bisa mengubah alam, tapi kita bisa mengubah cara kita bersiap. Pemerintah harus bergerak cepat dengan kebijakan yang tepat sasaran, dan masyarakat harus mulai beradaptasi serta peduli pada lingkungan sekitar.”

“Di tengah dunia yang belum menentu ini, kemandirian pangan, energi, dan kesiapan bencana adalah pondasi agar kita tetap berdiri tegak. Informasi ini kami sampaikan bukan untuk menakuti, melainkan agar kita semua bersiap dan meminimalkan dampak buruknya,” pungkas Dwikorita Karnawati.

Diskusi lengkap mengenai fenomena alam, geopolitik, dan kesiapan menghadapi tantangan ini dapat disimak selengkapnya dalam kanal YouTube EdShareOn di tautan berikut: https://youtu.be/rhwPFUSD9xg atau kunjungi situs resmi https://edshareon.com/.

 

(Tim Redaksi)