
SUKABUMI – Polres Sukabumi Kota menggelar lomba melukis khusus bagi penyandang disabilitas tunarungu (tunarungu) di Aula Graha Rekonfu Polres Sukabumi Kota pada Jumat (17/7/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan sekaligus sebagai bentuk kepedulian melalui pemberian santunan kepada siswa-siswi Sekolah Luar Biasa (SLB)-B Budi Nurani.
Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Sentot Kunto Wibowo, S.H., S.I.K., M.H. menegaskan bahwa keterbatasan fisik yang dimiliki para penyandang disabilitas bukanlah penghalang untuk terus berkarya dan berprestasi.
Menurutnya, lomba melukis ini bukan sekadar ajang perlombaan biasa, melainkan sebuah ruang inklusif bagi para penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas, serta potensi luar biasa yang mereka miliki.
“Keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. Kami ingin memberikan ruang bagi anak-anak kita untuk mengekspresikan bakat dan kreativitas mereka yang luar biasa,” ujar Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Sentot Kunto Wibowo, S.H., S.I.K., M.H. di sela-sela kegiatan.
Sebanyak 10 peserta antusias mengikuti lomba melukis ini. Menariknya, ajang ini juga menjadi bagian dari proses seleksi karya orisinal. Nantinya, karya-karya terbaik dari tingkat polres ini akan dikirim untuk diikutsertakan pada lomba melukis khusus penyandang disabilitas di tingkat Mabes Polri.
Selain kompetisi seni, suasana penuh kehangatan terlihat saat jajaran Polres Sukabumi Kota menyerahkan santunan secara langsung kepada para siswa SLB-B Budi Nurani. Dalam foto dokumentasi, tampak Kapolres Sukabumi Kota dengan humanis berinteraksi erat dengan para siswa yang menyalaminya dengan takzim saat menerima santunan.
Pihak Polres Sukabumi Kota menyatakan bahwa penyerahan santunan ini merupakan wujud nyata kepedulian kepolisian terhadap pemenuhan hak-hak para penyandang disabilitas serta untuk memberikan dukungan moral agar mereka tetap semangat menatap masa depan.
Melalui kegiatan ini, Polres Sukabumi Kota berharap dapat terus mendorong terciptanya lingkungan masyarakat yang ramah disabilitas, di mana setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh dan diakui karyanya.
Widiyano*
