TARGET SINDIKAT JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi pendorong utama pergerakan ekonomi daerah. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mendapatkan alokasi dana rata-rata Rp1 miliar setiap bulan.
Dengan jumlah sekitar 5.000 SPPG yang beroperasi di Jawa Barat, program ini berhasil menghasilkan perputaran dana mencapai Rp5 triliun setiap bulan. Dalam kurun waktu 2,5 bulan berjalan, total dana yang beredar di daerah tersebut mencapai sekitar Rp11 hingga 12 triliun rupiah.
“Alokasi Rp1 miliar per bulan untuk setiap SPPG memberikan dampak signifikan bagi perekonomian lokal. Di Jawa Barat saja, dengan 5.000 SPPG yang ada, peredaran uang mencapai Rp5 triliun setiap bulan. Dalam waktu lebih dari dua bulan, angka tersebut telah mencapai puluhan triliun rupiah dan terus menggerakkan roda ekonomi daerah,” papar Dadan dalam keterangannya pada Kamis (19/3/2026).
Alokasi Dana Disalurkan Langsung Lewat Virtual Account
Untuk memastikan distribusi yang tepat sasaran dan transparan, sebagian besar anggaran BGN disalurkan langsung ke daerah melalui sistem virtual account yang terhubung dengan seluruh SPPG di Indonesia. Mekanisme ini meminimalkan risiko penyimpangan dan memastikan dana digunakan sesuai dengan tujuan program.
Konsep MBG dirancang secara menyeluruh untuk mendukung kemandirian ekonomi lokal. Semua kebutuhan pangan dalam program ini diutamakan untuk dipenuhi dari hasil produksi daerah sekitar, sehingga memberikan peluang pasar yang luas bagi petani, pengusaha lokal, dan industri pangan skala kecil hingga menengah.
Program MBG Ciptakan Lapangan Kerja dan Ekonomi Sirkular
Selain mempercepat perputaran uang, SPPG juga berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja baru di tingkat lokal. Berbagai posisi mulai dari tenaga operasional hingga ahli gizi diangkat dari kalangan masyarakat setempat.
“Kita berharap program ini dapat menggerakkan ekonomi sirkular di setiap daerah. Saat ini, kesadaran akan pentingnya meningkatkan produktivitas lokal semakin tumbuh, bahkan banyak kepala daerah yang mengusulkan agar dana yang masuk digunakan untuk membeli bahan baku dari sumber daya lokal,” jelas Dadan.
Untuk menjamin kualitas pelayanan dan kesesuaian dengan kondisi daerah, setiap SPPG juga ditempati oleh tenaga ahli gizi yang berasal dari wilayah sekitar. Langkah ini memastikan bahwa upaya pemenuhan gizi dapat disesuaikan dengan potensi sumber daya lokal serta selera dan kebiasaan makan masyarakat setempat.(red)
