
WASHINGTON – Babak baru upaya damai Timur Tengah digelar Amerika Serikat. Mulai Selasa (23/6/2026) waktu setempat, perundingan tingkat tinggi antara Israel dan Lebanon resmi dibuka di Washington, berlangsung selama tiga hari hingga Kamis. Pertemuan ini berlangsung di dua lokasi strategis: Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan AS.
Agenda dibuka dengan sesi gabungan unsur politik dan militer kedua negara, lalu berlanjut ke pembahasan khusus masing‑masing sektor. Israel dan Lebanon diwakili duta besarnya di AS, sementara tuan rumah diwakili Penasihat Luar Negeri Dan Holler serta Asisten Sekretaris Pertahanan Dan Zimmerman.
Langkah ini jadi bagian upaya pemerintahan Donald Trump menjaga jalur komunikasi langsung, yang sempat goyah setelah AS diketahui membuka jalur pembicaraan paralel dengan Iran di Swiss. Bahkan ada pembagian tugas: Wakil Presiden JD Vance berunding dengan Iran, Menteri Luar Negeri Marco Rubio memimpin dialog Israel–Lebanon.
Posisi Israel Semakin Terjepit
Isu terbesar yang membayangi: kabar AS kini condong ke pihak Lebanon, hasil kesepakatan akhir pekan lalu dengan Iran. Muncul mekanisme baru penurunan ketegangan yang dinilai memotong hak dan ruang gerak militer Israel.
Aturan baru itu membatasi serangan Israel hanya pada “ancaman nyata”, dan melarang tindakan dengan dalih “ancaman yang baru muncul” — dalih yang selama ini kerap dipakai militer Israel beraksi.
Wakil Presiden JD Vance sendiri sudah konfirmasi kesepakatan ini. Ada poin yang paling tak disukai Israel: kelompok Hamas dan Hizbullah akan dilibatkan dalam pembahasan masa depan Lebanon. Padahal Israel maupun pemerintah Lebanon justru ingin menjauhkan mereka serta Iran dari meja perundingan.
Situasi makin mendesak: militer Israel (IDF) sendiri sudah mendesak pimpinan politik segera selesaikan perjanjian mandiri dengan Lebanon. Tujuannya jelas: hindari tekanan Washington yang makin memaksa Israel tunduk pada keinginan Iran.
Netanyahu Kekeuh Tak Akan Mengalah
Meski posisi makin terpojok dan diplomasi berjalan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu beserta jajaran tertinggi pertahanan—Menteri Pertahanan Katz, Kepala Staf Eyal Zamir, hingga Panglima Komando Utara Rafi Milo—langsung merapatkan barisan. Lewat sambungan telepon, mereka sepakat pada satu sikap: tak ada penghentian atau pelunakan tindakan militer.
Dalam pernyataan tegas bersama, mereka tegaskan:
“IDF akan terus bertindak tegas menggagalkan ancaman, menghancurkan infrastruktur teror, dan mempertahankan zona keamanan di Lebanon selatan. Diplomasi berjalan, tapi keamanan warga sipil dan pasukan kami tetap prioritas utama, tanpa kompromi sedikit pun.”
Di tengah tekanan internasional dan aturan baru yang menjepit, Netanyahuengan dan jajarannya bersikap: meja perundingan boleh dibuka, tapi senjata di lapangan tetap siap dan terus beraksi.
(red)
