Renungan batin: ketika kita sadar segala sesuatu bukan milik kita, barulah hati menemukan jalan pulang kepada Sang Pemilik
JAKARTA, 30 MEI 2026 – Sebagian besar kegelisahan, kesedihan, dan kekecewaan yang dirasakan manusia bermula dari satu kesalahan pandangan: menganggap apa yang ada di tangan kita adalah milik mutlak yang akan tetap selamanya. Kita menggenggam erat harta, jabatan, hubungan, dan harapan, seolah-olah kita yang berkuasa penuh atasnya. Padahal, kenyataan berkata lain — segala sesuatu yang datang pasti akan pergi, segala yang ada pasti akan tiada.
Menyadari hakikat inilah yang menjadi inti pemikiran mendalam yang disampaikan Dr. KH. Another Hapin Nurgus, S.H., M.H., MBA. Beliau mengajak setiap orang untuk mulai belajar melepaskan kemelekatan, memahami makna titipan, dan menjadikan ridha Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan akhir perjalanan hidup.
Memahami Makna Sesungguhnya: Kita Hanyalah Penitip
“Coba renungkan sejenak: kita datang ke dunia ini tidak membawa apa-apa, dan nanti saat pergi pun tidak akan membawa apa-apa. Lalu mengapa kita merasa memiliki segalanya seolah itu hak mutlak kita?” ungkap beliau memulai pemaparannya.
Menurutnya, kemelekatan tumbuh subur ketika kita salah menempatkan posisi diri. Kita lupa bahwa harta yang kita simpan, kedudukan yang kita sandang, bahkan tubuh dan nyawa yang kita miliki, semuanya adalah milik Allah SWT yang hanya dititipkan kepada kita untuk diurus sementara waktu.
“Kalau kita sadar ini semua cuma titipan, rasanya akan sangat berbeda. Saat diberi, kita bersyukur karena dipercaya. Saat diambil kembali, kita ikhlas karena tahu itu hak pemilik aslinya. Tidak ada rasa kehilangan, tidak ada rasa sakit hati, karena kita tidak pernah merasa memilikinya sejak awal,” jelasnya.
Melepaskan kemelekatan bukan berarti membuang atau tidak menghargai apa yang ada, melainkan menempatkannya pada tempat yang benar: sebagai sarana ibadah, bukan tujuan hidup.
Antara Berusaha dan Berserah: Keseimbangan yang Sempurna
Banyak orang terjebak di dua kutub yang salah: ada yang terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa akhirat, ada pula yang merasa pasrah lalu malas berusaha. Dr. KH. Another Hapin Nurgus meluruskan pandangan tersebut:
“Agama kita mengajarkan jalan tengah yang indah. Kita diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga, bekerja sebaik mungkin, dan berikhtiar dengan sungguh-sungguh — itu kewajiban kita. Tapi setelah semua itu dilakukan, kita serahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah SWT — itu pun kewajiban kita.”
Beliau menegaskan, melepaskan artinya hati tidak terikat pada hasil, tidak bergantung pada makhluk, dan tidak kecewa jika tidak sesuai keinginan. “Kita berjuang dengan badan, tapi hati tetap tenang dan bersandar pada Allah. Kalau berhasil, kita tahu itu pertolongan-Nya. Kalau belum berhasil, kita tahu itu ujian atau kebaikan yang sedang disiapkan-Nya. Inilah makna pasrah yang sebenarnya,” ujarnya.
Ridha Allah: Puncak dari Segala Pencarian
Dalam perjalanan hidup manusia, sering kali kita mengejar banyak hal: kekayaan, kehormatan, kesuksesan, atau pujian orang lain. Padahal, semua itu hanyalah pelengkap, bukan tujuan utama.
“Tujuan hidup yang paling hakiki dan paling tinggi hanyalah satu: mendapatkan ridha Allah SWT. Kalau ridha-Nya sudah kita dapatkan, apa pun keadaan kita akan terasa nikmat. Kalau ridha-Nya belum kita dapatkan, seberapa banyak pun harta dan kedudukan yang kita miliki, hati akan tetap terasa kosong dan gelisah,” tegas beliau.
Orang yang sudah meraih ridha Allah, lanjutnya, akan memiliki ketenangan yang tidak bisa digoyahkan apa pun. “Ia tidak terlalu senang saat diberi nikmat, tidak terlalu sedih saat terkena musibah. Ia tetap teguh saat dipuji, tetap sabar saat dicela. Karena ia tahu, semua itu datangnya dari Allah dan akan kembali kepada Allah,” ujarnya.
Langkah Kecil Menuju Hati yang Lapang
Di akhir ceramahnya, beliau memberikan cara sederhana yang bisa dipraktikkan setiap hari untuk melatih hati melepaskan dan meraih ridha-Nya:
1. Ubah cara pandang: yakini dalam hati bahwa segala sesuatu yang ada di sekitar kita adalah milik Allah yang sedang dititipkan.
2. Luruskan niat: sebelum melakukan apa saja, tanamkan niat semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau takut dicela.
3. Lakukan yang terbaik, serahkan sisanya: berikan usaha maksimal, tapi jangan gantungkan kebahagiaan pada hasilnya.
4. Latih rasa syukur dan ikhlas: terima segala keadaan dengan lapang dada, yakini bahwa ketetapan Allah selalu mengandung kebaikan.
“Perjalanan melatih hati memang tidak mudah, penuh tantangan dan butuh waktu. Tapi percayalah, ketika hati kita sudah terbebas dari belenggu dunia dan sudah menemukan sandaran sejati pada Allah, barulah kita akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya — kebahagiaan yang abadi dan tak ternilai harganya,” tutupnya.
(Redaksi)
